Langsung ke konten utama

Jendela Kecil (cerpen)


Seperti biasa, suara-suara pembawa ketenangan  menggiringi pagi Atta. Tapi entah kenapa matanya lebab, entah kurang tidur karena  dinginnya malam tadi  dia terjaga, aku tak tau. Aku hanya menatap dari kejauhan, dari jendela kecil ini. Aku tersipu saat Atta menangkap pandanganku. Sejak pertemuanku di musolla malam itu dengan Atta, aku mulai sering merindukan mata tajamnya, yang hanya bisa kunikmati di  balik jendela kecil ini.
Aku memutuskan untuk duduk di tengah taman ini, hari ini. Menikmati indahnya kebesaranNya yang telah diciptakan tanpa batas untuk kita, umatNya. Pandanganku berhenti ketika mataku melihat mata tajam itu, tajam penuh kewibawaan. dia terlihat menyunggingan bibirnya ke arahku, tapi entah lah, mungkin itu hanya bayanganku yang kabur dan harapanku yang terlalu besar. Dan akhirnya aku tertunduk, fikiranku berputar tentangnya, “ Zahra,, sadar apa yang kamu fikirkan, tak pantas..” tegasku pada diriku.
Pandangan di taman itu, selalu menjadi bayangku selama beberapa hari ini. Sebanyak aku membayangkan dan teringat pandangan itu, sebanyak juga aku menegaskan pada diriku jika semua itu adalah hal yang tidak mungkin ada dalam hidupku. Aku putuskan untuk mengaguminya dari balik jendela kecil ini. Cukup itu saja!.
###
“ukhty Zahra,, kapan kita bisa rapat untuk muwadda’ah ?” Tanya Laili. “ya, ty,, aku kemarin sudah konsultasi sama ustadzah Febri, dan beliau bilang minggu ini, rapat koordinasi harus dilaksanakan. Ukhty Laili,, aku minta tolong buat undangan untuk semua panitia ya,,” jawabku. “O,, ya ty,,,” jawabnya penuh semangat. Bulan april, bulan paling dinanti semua siswa-siswi kelas 12 MA. Masa abu-abu yang akan segera berakhir, masa yang tak akan terulang kembali, dan tentunya bagiku, sudah tak ada pemandangan dari balik jendela kamar penuh cerita. Semua akan menjalani kehidupan baru, aku pasti akan merindukan mata tajam itu.
Rapat pertama koordinasi panitia muwadda’ah berjalan sedikit lancar, maklumlah masih ada bla-bla-bla yang tak sependapat inilah, itulah,,, dan itu hal yang wajar.
                                                                        ###
Ujian Nasional, Ujian Madrasah dan ujian dari yayasan sudah kami lewati, dan Alhamdulillah aku bisa melewatinya dengan mudah. Tema muwa’ddah yang di setujui kali ini adalah “cerita kita adalah separuh hidup kita”. Persiapan yang matang telah dilakukan, segala kebutuhan sudah siap, tinggal menunggu hari H. kegembiraan yang beradk dengan kesedihan hari-hari ini selalu berjalan bersamaku, aku bingung antara melanjutkan studyku atau tidak, atau aku meneruskan pendidikan agamaku saja, orang tuaku member kebebasan selama iru adalah keputusan yang terbaik bagiku, satu yang menjadi beban beratku, aku tak mungkin bisa merepotkan orang tua lagi dengan biaya kuliah yang tidak sedikit. Keinginanku besar untuk bisa kuliah dan aku hanya bisa berharap padaNya jika memang apa yang aku inginkan terbaik aku yakin Dia telah menyiapkan jalan indah untukku, aku hanya bisa berharap. Sedih juga meninggalkan kamar yang penuh dengan cerita, ketika aku merasakan kedinginan, sakit, gembira, kebersamaan disini, dan yang terpenting jendela ini tak akan kutemui lagi pemandangan yang sama dari jendela kecil ini.
                                                                        ###
            Pelepasan siswa-siswi kelas 12 MA sudah tiba waktunya, segala macam perasaan bercampur jadi satu di aula ini, penantian panjang akhirnya kini aku dan teman-teman rasakan, kegembiraan sesaat yang akan di bungkus dengan perpisahan dan ucapan selamt tinggal, dan itu ynag membuat aku terdiam, hanya saja aku tertawa ketika meliaht tingkah teman-temanku, hatiku sakit melihat ini, hanya sekejap mata dan semua enyah.
            Pertanda sudah kita menjadi alumni. Kini giliranku sebagai ketua panitia sekaligus perwakilan siswi kelas 12 untuk menyampaikan sambutan. Hal yang jaranga aku lakukan sebelumnya, do’aku  dalam hati, semoga apa yang aku katakana nanti, bias diterima oleh pengasuh, ustadz-ustadzah dan teman-teman semua. “cerita kita adalah separuh hidup kita, tema yang sangat cantik akan tetap terukir di hati kita menuju kesuksesan bersama, kesuksesan almamater kita, terimakasih pak yai,,, ustadz wa ustadzah,, thaks for all my friends,, selamat berjuang dan mencapai kesuksesan, kita dipertemukan di tempat yang penuh dengan barokah ini, pengalaman spiritual, pengalaman intelektual yang di berikan dengan penuh keikhlasan, kita yang tak mampu membalasnya dengan balasan yang sepadan, sekali lagi terima kasih kami uapkan untak para yai, ustdz dan ustdzah, do’akan kami untuk meraih impian-impian kami. I think enough from me, tsummassalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh”. Mutiara di mataku tak mampu ku bendung, aku sesegera mungkin untuk duduk di tempatku semuala, teman-temanku menenangkan.
            Acara demi acara berjalan dengan cukup lancar, terasa cepat sekali, dan aku tak mau hal itu terjadi. Aku megandeng semua teman-temanku, kita larut dalam suasana yang sama, akankah hujan kali ini akan ada pelangi yang mampu mengobati kita?. Akh perpisahan, hal yang di eluhkan banyak orang, tapi inilah konsekuensi dari sebuah pertemuan, kita harus bisa terima. Uacpan selamat aku terima dari teman-teman, karena acara berjalan sukses. “Zahra,,, semua panitia di mohon untuk tidak pulang terlebih dahulu, karena pak yai tadi berpesan, setelah acara ini selesai kalian sowan ke pak yai sekaligus pembubaran panitia” sms ustdah Febri. Dan aku dengan segera menyebarkan sms tersebut dan mengumumkan di sumber suara, 10-15 menit aku menunggu akhirnya semua panitia sudah berkumpul. Kupersilahkan teman-teman cowok untuk duluan. 
            Pesan terakhir pak yai yang membuatku tak konsentrasi dengan keadaan sekelilingku, ‘tantangan adalah sebuah kehormatan, seberapa besar keberanian kalian untuk mengambil tantangan, semakin tinggi pula apa yang akan kalian terima, gapailah cita kalian’. Sapaan Attapun tak aku hiraukan. Yah,, dan hari ini aku benar-benar resmi menjadi alumni, meninggalkan segala yang ada disini, aku hanya bisa mengenang segala yang telah terjadi, dan juga Atta.
                                                            ###
            Coretan langit berwarna kuning, kini aku melihatnya lebih jelas, dulu aku  menikmati hal yang sama tapi samar, karena terhalang bangunan yang cukup tinggi. Rumahku yang asri yang menyejukkakan. Tidak terasa aku sudah kembali ketempat kelahiranku, dan kata orang-orang aku mulai tumbuh dewasa. Aku akan memulai kehidupan baru sebagai alumni Madrasah Aliyah. Aku bukan anak kecil lagi. Aku akan menemukan jalanku.
            Sudah hampir satu bulan aku berada di rumahku, tawaran orang tuaku untuk melanjutkan pendidikan di universitas belum juga menggerakkan aku untutuk mendaftarkan diri. Aku masih memantapkan hati untuk mandiri, dan tidak merepotkn mereka.

*to be continue

























Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari Sawah Liburan bagiku harus tetap bisa belajar, tentunya denagn tidak mengeluarkan banyak biaya. Mengapa karena tidak musim liburan gini tak mungkinkan kita minta uang saku, lucu banget, apalagi aku sudah mahasiswa sekarang, yang notabene bukan anak-anak lagi. Mengisi hari-hari libur yang cukup panjang ini aku pergi ketempat yang cukup mengasikkan menurutku, dan dari tempat inilah aku mendapat banyak pelajaran. Sawah, menempuh dengan sepeda onthel, aku menyempatkan untuk seminggu sekali atau dua kali pergi ke sawah selama liburan kali ini. Pemandangan yang jarang kita temui di kota-kota besar. Mata ini seakan terus ingin untuk menikmatinya, dan mulut tak henti-hentinya mengucap kekaguman untuk kuasaNya. Dari sinilah kita bisa dapat banyak peelajaran, pelajaran hidup yang belum tentu kita dapatkan dibangku sekolah maupun kuliah. Hamparan hijau yang terbentang adalah hal yang tak mungkin ada, melainkan semua itu adalah buah hasil dari para petani, yang sejak faja...

puisi

Menyusur bebas Dalam keheningan Berada dalam keharuan Masa lalu yang tak pudar Walau hanya lewat kertas Hanya terbatas dalam cita bersama Dan kini terbukti Semua itu lebih dari indah Abadi dan selamanya,,