Seperti biasa, suara-suara
pembawa ketenangan menggiringi pagi
Atta. Tapi entah kenapa matanya lebab, entah kurang tidur karena dinginnya malam tadi dia terjaga, aku tak tau. Aku hanya menatap
dari kejauhan, dari jendela kecil ini. Aku tersipu saat Atta menangkap
pandanganku. Sejak pertemuanku di musolla malam itu dengan Atta, aku mulai
sering merindukan mata tajamnya, yang hanya bisa kunikmati di balik jendela kecil ini.
Aku memutuskan untuk duduk di tengah taman
ini, hari ini. Menikmati indahnya kebesaranNya yang telah diciptakan tanpa
batas untuk kita, umatNya. Pandanganku berhenti ketika mataku melihat mata
tajam itu, tajam penuh kewibawaan. dia terlihat menyunggingan bibirnya ke
arahku, tapi entah lah, mungkin itu hanya bayanganku yang kabur dan harapanku
yang terlalu besar. Dan akhirnya aku tertunduk, fikiranku berputar tentangnya,
“ Zahra,, sadar apa yang kamu fikirkan, tak pantas..” tegasku pada diriku.
Pandangan di taman itu, selalu menjadi
bayangku selama beberapa hari ini. Sebanyak aku membayangkan dan teringat
pandangan itu, sebanyak juga aku menegaskan pada diriku jika semua itu adalah
hal yang tidak mungkin ada dalam hidupku. Aku putuskan untuk mengaguminya dari
balik jendela kecil ini. Cukup itu saja!.
###
“ukhty Zahra,, kapan kita bisa rapat untuk
muwadda’ah ?” Tanya Laili. “ya, ty,, aku kemarin sudah konsultasi sama ustadzah
Febri, dan beliau bilang minggu ini, rapat koordinasi harus dilaksanakan. Ukhty
Laili,, aku minta tolong buat undangan untuk semua panitia ya,,” jawabku. “O,,
ya ty,,,” jawabnya penuh semangat. Bulan april, bulan paling dinanti semua
siswa-siswi kelas 12 MA. Masa abu-abu yang akan segera berakhir, masa yang tak
akan terulang kembali, dan tentunya bagiku, sudah tak ada pemandangan dari
balik jendela kamar penuh cerita. Semua akan menjalani kehidupan baru, aku
pasti akan merindukan mata tajam itu.
Rapat pertama koordinasi panitia muwadda’ah
berjalan sedikit lancar, maklumlah masih ada bla-bla-bla yang tak sependapat
inilah, itulah,,, dan itu hal yang wajar.
###
Ujian Nasional, Ujian Madrasah dan ujian
dari yayasan sudah kami lewati, dan Alhamdulillah aku bisa melewatinya dengan
mudah. Tema muwa’ddah yang di setujui kali ini adalah “cerita kita adalah
separuh hidup kita”. Persiapan yang matang telah dilakukan, segala kebutuhan
sudah siap, tinggal menunggu hari H. kegembiraan yang beradk dengan kesedihan
hari-hari ini selalu berjalan bersamaku, aku bingung antara melanjutkan studyku
atau tidak, atau aku meneruskan pendidikan agamaku saja, orang tuaku member
kebebasan selama iru adalah keputusan yang terbaik bagiku, satu yang menjadi
beban beratku, aku tak mungkin bisa merepotkan orang tua lagi dengan biaya
kuliah yang tidak sedikit. Keinginanku besar untuk bisa kuliah dan aku hanya
bisa berharap padaNya jika memang apa yang aku inginkan terbaik aku yakin Dia
telah menyiapkan jalan indah untukku, aku hanya bisa berharap. Sedih juga
meninggalkan kamar yang penuh dengan cerita, ketika aku merasakan kedinginan,
sakit, gembira, kebersamaan disini, dan yang terpenting jendela ini tak akan
kutemui lagi pemandangan yang sama dari jendela kecil ini.
###
Pelepasan
siswa-siswi kelas 12 MA sudah tiba waktunya, segala macam perasaan bercampur
jadi satu di aula ini, penantian panjang akhirnya kini aku dan teman-teman
rasakan, kegembiraan sesaat yang akan di bungkus dengan perpisahan dan ucapan
selamt tinggal, dan itu ynag membuat aku terdiam, hanya saja aku tertawa ketika
meliaht tingkah teman-temanku, hatiku sakit melihat ini, hanya sekejap mata dan
semua enyah.
Pertanda
sudah kita menjadi alumni. Kini giliranku sebagai ketua panitia sekaligus
perwakilan siswi kelas 12 untuk menyampaikan sambutan. Hal yang jaranga aku
lakukan sebelumnya, do’aku dalam hati,
semoga apa yang aku katakana nanti, bias diterima oleh pengasuh,
ustadz-ustadzah dan teman-teman semua. “cerita kita adalah separuh hidup kita,
tema yang sangat cantik akan tetap terukir di hati kita menuju kesuksesan
bersama, kesuksesan almamater kita, terimakasih pak yai,,, ustadz wa ustadzah,,
thaks for all my friends,, selamat berjuang dan mencapai kesuksesan, kita
dipertemukan di tempat yang penuh dengan barokah ini, pengalaman spiritual,
pengalaman intelektual yang di berikan dengan penuh keikhlasan, kita yang tak
mampu membalasnya dengan balasan yang sepadan, sekali lagi terima kasih kami
uapkan untak para yai, ustdz dan ustdzah, do’akan kami untuk meraih
impian-impian kami. I think enough from me, tsummassalamualaikum warohmatullahi
wabarakatuh”. Mutiara di mataku tak mampu ku bendung, aku sesegera mungkin
untuk duduk di tempatku semuala, teman-temanku menenangkan.
Acara
demi acara berjalan dengan cukup lancar, terasa cepat sekali, dan aku tak mau
hal itu terjadi. Aku megandeng semua teman-temanku, kita larut dalam suasana
yang sama, akankah hujan kali ini akan ada pelangi yang mampu mengobati kita?.
Akh perpisahan, hal yang di eluhkan banyak orang, tapi inilah konsekuensi dari
sebuah pertemuan, kita harus bisa terima. Uacpan selamat aku terima dari
teman-teman, karena acara berjalan sukses. “Zahra,,, semua panitia di mohon
untuk tidak pulang terlebih dahulu, karena pak yai tadi berpesan, setelah acara
ini selesai kalian sowan ke pak yai sekaligus pembubaran panitia” sms ustdah
Febri. Dan aku dengan segera menyebarkan sms tersebut dan mengumumkan di sumber
suara, 10-15 menit aku menunggu akhirnya semua panitia sudah berkumpul.
Kupersilahkan teman-teman cowok untuk duluan.
Pesan
terakhir pak yai yang membuatku tak konsentrasi dengan keadaan sekelilingku, ‘tantangan adalah sebuah kehormatan, seberapa
besar keberanian kalian untuk mengambil tantangan, semakin tinggi pula apa yang
akan kalian terima, gapailah cita kalian’. Sapaan Attapun tak aku hiraukan.
Yah,, dan hari ini aku benar-benar resmi menjadi alumni, meninggalkan segala
yang ada disini, aku hanya bisa mengenang segala yang telah terjadi, dan juga
Atta.
###
Coretan
langit berwarna kuning, kini aku melihatnya lebih jelas, dulu aku menikmati hal yang sama tapi samar, karena
terhalang bangunan yang cukup tinggi. Rumahku yang asri yang menyejukkakan.
Tidak terasa aku sudah kembali ketempat kelahiranku, dan kata orang-orang aku
mulai tumbuh dewasa. Aku akan memulai kehidupan baru sebagai alumni Madrasah
Aliyah. Aku bukan anak kecil lagi. Aku akan menemukan jalanku.
Sudah
hampir satu bulan aku berada di rumahku, tawaran orang tuaku untuk melanjutkan
pendidikan di universitas belum juga menggerakkan aku untutuk mendaftarkan
diri. Aku masih memantapkan hati untuk mandiri, dan tidak merepotkn mereka.
*to be continue

Komentar
Posting Komentar