Seperti biasa, suara-suara pembawa ketenangan menggiringi pagi Atta. Tapi entah kenapa matanya lebab, entah kurang tidur karena dinginnya malam tadi dia terjaga, aku tak tau. Aku hanya menatap dari kejauhan, dari jendela kecil ini. Aku tersipu saat Atta menangkap pandanganku. Sejak pertemuanku di musolla malam itu dengan Atta, aku mulai sering merindukan mata tajamnya, yang hanya bisa kunikmati di balik jendela kecil ini. Aku memutuskan untuk duduk di tengah taman ini, hari ini. Menikmati indahnya kebesaranNya yang telah diciptakan tanpa batas untuk kita, umatNya. Pandanganku berhenti ketika mataku melihat mata tajam itu, tajam penuh kewibawaan. dia terlihat menyunggingan bibirnya ke arahku, tapi entah lah, mungkin itu hanya bayanganku yang kabur dan harapanku yang terlalu besar. Dan akhirnya aku tertunduk, fikiranku berputar tentangnya, “ Zahra,, sadar apa yang kamu fikirkan, tak pantas..” tegasku pada diriku. Pandangan di taman itu, selalu menjadi b...